selamat jalan....
sebuah kalimat sederhana yang ku ucapkan untuk mu saat ini...
kemarin tepatnya tgl 29 juli berita duka itu datang....
hari ini masih menyesakkan dada,, tak tau mau berkata apa,, bibir kaku,, hanya air mata yang jatuh....
selamat jalan om....
om adalah sosok yang pertama kali saya kenal saat pertama menapakkan kaki di pulau ini...
tanpa engkau pada saat itu mungkin saat ini saya disini tanpa cerita....
selamat jalan om...
suka,,duka,,dan air mata kita mulai dan kita lewati bersama di pulau ini...
hingga saatnya tiba engkau harus pergi jauh demi tanggung jawabmu kepadaNya...
lama....,tanpa kabar...
tiba-tiba kemarin dan hari ini engkau memberikan kabar pilu tentangmu...
bagaimana kabarmu., apakah ragamu sudah di kebumikan??
atau masih bersama dengan binatang-binatang tak punya hati itu??
selamat jalan om....
do'a suci ini dari hati ini selalu terpanjatkan untukmu...
selamat jalan damai dalam tidur lelapmu...
#tulisan ini saya dedikasikan teruntuk om saya yang sudah meninggal entah itu dimakan buaya atau ulah tangan jahat dari seseorang yg sempat hilang selama 2 hari di tengah laut dan di kabarkan di makan oleh buaya,,alhamdulillah hari ini tepatnya jam 9 pagi telah di temukan mayatnya dan akan di kebumikan...
"Coretan Pena"
"Berharap bahwa seiring berjalannya waktu, saya akan menjadi lebih baik,, bila saya dapat mengenali diri sendiri..., tapi saya juga sadar ..., bahwa tanpa teman untuk berbagi, saya tak akan pernah dapat mengenali siapa diri saya..." cheers... :)
Senin, 29 Juli 2013
Minggu, 30 Juni 2013
"pertemuan singkat"
Kemarin tepatnya tanggal 30 juni 2013 hari minggu kebahagiaan itu datang dan berlalu begitu cepat.... kemarin juga kebahagiaan yang hilang selama 14 tahun itu terobati.... di sebuah hotel ternama yang ada di pulau lombok tepatnya di senggigi (senggigi beach hotel) menjadi saksi moment yang haru.... betapa bahagianya,,, karena seseorang yang menjaga, merawat, dan menyayangi sejak kecil datang lagi. pertemuan singkat itu menoreh 1000 kisah lama, ada canda, tawa teriring di baliknya..., seseorang sosok yang intelek, kharismatik, berwibawa, sosok teladan yang luar biasa buat seorang yang minus seperti saya.
Ibu, bapak terimakasih untuk ingatan memorinya tentang saya adakalanya dada ini sesak ketika teringat dulu saya pergi tanpa sepengetahuan kalian, tanpa sedikitpun rasa benci dan dendam kemudian kalian hadir sesaat membawa warna hidup yang merubah suram sedikit cerah di tambah tumbuhnya seorang adik cewek yang cantik, crewet, bawel dan manja dan seorangnya lagi ganteng, tetapi semua itu tidak merubah cara perhatianmu terhadap saya.
Menghabiskan waktu dari pagi sampai tiba malam saya di suruh nginap bersama mereka, tetapi saya mengingat ada deadline kantor yang mesti saya selesaikan berhubungan dengan keuangan maka saya pun menolak dengan berat padahal sebenarnya kepincut banget.
Tiba saatnya saya pamitan pulang karena takut kemalaman di jalan ibu langsung mendekap erat dan kami pun terdiam lama dan sempat terdengar isak di sela-selanya, mencoba tegar dengan keadaan itu dengan tidak mau meneteskan air mata karena takutnya itu akan menjadi sebuah kelemahan yang akan memperburuk suasana, oleh karena itu saya memilih untuk memendam nya saja.
Saya bergegas pulang sesampainya di kost, ada sms masuk oh ternyata dari ibu dengan logat khas sulawesinya "sayang besok kalo lebaran di makassar saja ya biar bunda yang kirimkan ko biaya return kau lebaran sama ade' Nabilamu disini" senang luar biasa.... kemudian saya replay "ie bun terimaksih banyak, besok kalo nanda mau kesana tinggal saya info bunda saja"...
Hari ini jam 06: 00 WIT mereka semua kembali lagi ke Makassar, maaf ibu tanpa mengurangi rasa hormat hati ini bukan tidak mau antar ke bandara..., saya cuma bisa mengantar dengan do'a semoga ibu,, bapak, dan adik-adik selamat sampai di tujuan tanpa ada halangan sedikitpun.... :)
** I dedicate this article to my mother who has been adoptive and be my inspirator (DR. Dr. Hj. Habibah S. Muhidin, SpM (K).
Ibu, bapak terimakasih untuk ingatan memorinya tentang saya adakalanya dada ini sesak ketika teringat dulu saya pergi tanpa sepengetahuan kalian, tanpa sedikitpun rasa benci dan dendam kemudian kalian hadir sesaat membawa warna hidup yang merubah suram sedikit cerah di tambah tumbuhnya seorang adik cewek yang cantik, crewet, bawel dan manja dan seorangnya lagi ganteng, tetapi semua itu tidak merubah cara perhatianmu terhadap saya.
Menghabiskan waktu dari pagi sampai tiba malam saya di suruh nginap bersama mereka, tetapi saya mengingat ada deadline kantor yang mesti saya selesaikan berhubungan dengan keuangan maka saya pun menolak dengan berat padahal sebenarnya kepincut banget.
Tiba saatnya saya pamitan pulang karena takut kemalaman di jalan ibu langsung mendekap erat dan kami pun terdiam lama dan sempat terdengar isak di sela-selanya, mencoba tegar dengan keadaan itu dengan tidak mau meneteskan air mata karena takutnya itu akan menjadi sebuah kelemahan yang akan memperburuk suasana, oleh karena itu saya memilih untuk memendam nya saja.
Saya bergegas pulang sesampainya di kost, ada sms masuk oh ternyata dari ibu dengan logat khas sulawesinya "sayang besok kalo lebaran di makassar saja ya biar bunda yang kirimkan ko biaya return kau lebaran sama ade' Nabilamu disini" senang luar biasa.... kemudian saya replay "ie bun terimaksih banyak, besok kalo nanda mau kesana tinggal saya info bunda saja"...
Hari ini jam 06: 00 WIT mereka semua kembali lagi ke Makassar, maaf ibu tanpa mengurangi rasa hormat hati ini bukan tidak mau antar ke bandara..., saya cuma bisa mengantar dengan do'a semoga ibu,, bapak, dan adik-adik selamat sampai di tujuan tanpa ada halangan sedikitpun.... :)
** I dedicate this article to my mother who has been adoptive and be my inspirator (DR. Dr. Hj. Habibah S. Muhidin, SpM (K).
Selasa, 11 Juni 2013
"P I L I H A N"
PILIHAN .... sebuah kata yang senantiasa jadi pemicu
problema dan juga dilema. Perjumpaan dengan pilihan juga kerap membuat manusia
menuai buah simalakama. Ujungnya seringkali tawa bahagia, namun tak jarang pula
duka nestapa.
Sebuah pilihan .... bisa berisi dua keputusan .... bisa juga tiga .... sepuluh ... dan bukan mustahil pula bila seratus. Yang bila diputuskan salah satu, masing-masing akan berbuah konsekuansi yang yang beragam.
Tatkala manusia bersua dengan pilihan, satu hal yang biasanya akan terjadi adalah munculnya kebimbangan dan keragu-raguan. Keraguan akan konsekuensi serta keraguan akan ending yang akan menjadi ujung dari pilihan. Sungguh manusiawi .....
Sebagai seorang Taurus sejati, dulu, saya kerap menyikapi pilihan dengan kebimbangan dan keraguan. Dan tatkala pilihan telah kuputuskan, saya selalu melangkah dengan beban tanda tanya yang saya pikul. Tanda tanya yang berisikan prakiraan akan ending dan ratapan serta konsekuensi yang (dulu) saya rasa nyeri bagaikan luka menganga. Putusan akan sebuah pilihan laksana sebuah kesalahan. Dan sesal, acap kali menjadi akhiran yang tertuai.
Apa yang salah???? Bukankah tatkala putusan dibuat, sebuah asa akan ending yang indah sudah tergambar walaupun samar??? Asa yang laksana sebuah kanvas tertoreh guratan sketsa yang seharusnya akan menjadi sebuah lukisan yang indah pada akhirnya???? Apa yang salah????
Penemuan jawaban akan pertanyaan tersebut kudapat jauh dari yang namanya instan. Proses berjalannya kehidupanku telah membuka pikiranku untuk mendapatkan jawaban bahwasanya adalah salah ketika saya menyesali putusan akan pilihanku. dan adalah keliru ketika saya meratapi konsekuensi yang akhirnya harus saya jalani.
Seharusnya, saat putusan akan pilihan telah dibuat, saya sikapi dengan dengan optimisme. Dan saat konsekuensi muncul, saya nikmati sebagai sebuah proses akan suatu pencapaian ending yang indah.
Bersua dengan pilihan, tak selayaknyalah manusia larut dalam kebimbangan dan keraguan. Larut dalam bimbang dan ragu hanya membuat kita seakan jalan di tempat .... tak bergerak .... statis ....
Putuskan segera ... jalani pilihan dengan sebaik-baiknya, nikmati prosesnya ....serta berdamailah dengan putusan itu.
Memutuskan .... sejatinya bukan hal yang mudah. Tapi sebagai manusia yang tak hanya punya raga melainkan juga jiwa, putuskanlah pilihanmu tidak hanya dengan logika, namun juga dengan rasa. Dan putuskanlah pilihanmu tak hanya dengan hitungan untung rugi, melainkan juga dengan nurani .......
Sebuah pilihan .... bisa berisi dua keputusan .... bisa juga tiga .... sepuluh ... dan bukan mustahil pula bila seratus. Yang bila diputuskan salah satu, masing-masing akan berbuah konsekuansi yang yang beragam.
Tatkala manusia bersua dengan pilihan, satu hal yang biasanya akan terjadi adalah munculnya kebimbangan dan keragu-raguan. Keraguan akan konsekuensi serta keraguan akan ending yang akan menjadi ujung dari pilihan. Sungguh manusiawi .....
Sebagai seorang Taurus sejati, dulu, saya kerap menyikapi pilihan dengan kebimbangan dan keraguan. Dan tatkala pilihan telah kuputuskan, saya selalu melangkah dengan beban tanda tanya yang saya pikul. Tanda tanya yang berisikan prakiraan akan ending dan ratapan serta konsekuensi yang (dulu) saya rasa nyeri bagaikan luka menganga. Putusan akan sebuah pilihan laksana sebuah kesalahan. Dan sesal, acap kali menjadi akhiran yang tertuai.
Apa yang salah???? Bukankah tatkala putusan dibuat, sebuah asa akan ending yang indah sudah tergambar walaupun samar??? Asa yang laksana sebuah kanvas tertoreh guratan sketsa yang seharusnya akan menjadi sebuah lukisan yang indah pada akhirnya???? Apa yang salah????
Penemuan jawaban akan pertanyaan tersebut kudapat jauh dari yang namanya instan. Proses berjalannya kehidupanku telah membuka pikiranku untuk mendapatkan jawaban bahwasanya adalah salah ketika saya menyesali putusan akan pilihanku. dan adalah keliru ketika saya meratapi konsekuensi yang akhirnya harus saya jalani.
Seharusnya, saat putusan akan pilihan telah dibuat, saya sikapi dengan dengan optimisme. Dan saat konsekuensi muncul, saya nikmati sebagai sebuah proses akan suatu pencapaian ending yang indah.
Bersua dengan pilihan, tak selayaknyalah manusia larut dalam kebimbangan dan keraguan. Larut dalam bimbang dan ragu hanya membuat kita seakan jalan di tempat .... tak bergerak .... statis ....
Putuskan segera ... jalani pilihan dengan sebaik-baiknya, nikmati prosesnya ....serta berdamailah dengan putusan itu.
Memutuskan .... sejatinya bukan hal yang mudah. Tapi sebagai manusia yang tak hanya punya raga melainkan juga jiwa, putuskanlah pilihanmu tidak hanya dengan logika, namun juga dengan rasa. Dan putuskanlah pilihanmu tak hanya dengan hitungan untung rugi, melainkan juga dengan nurani .......
ANOTHER YEAR
19 Mei 2013 ....
To be in this world .... another year has passed .... and don't know if there will be another year to come .....
Another year ..... Angka 1 telah terjumlah secara otomastis di yang namanya "usia"ku. Bukan bertambah tua yg membuatku lara, tapi berapa sisa usia yang membuatku bertanya. Akankah semua yang indah akan tetap ada? Dan akankah semua yang duka terbang sirna?
Another year .... Banyak sekali warna yang berpendar ujung usiaku yang lalu. Hingga mataku terasa nanar dan otakku seakan berputar. Sulit sekali untuk mencoba memahami apa yg telah terjadi. Yang kubisa hanya berusaha melakukan yang terbaik, berusaha merasakan yang terindah, berusaha memberikan yang teristimewa .....
Another year .... bertambah kerutan di wajah sudah pasti. Tapi itu bukan jadi satu kekhawatiran. Bertambah bijaksana, itu yang masih kunanti. Bukan lagi hidup dalam mimpi-mimpi laksana pemeran dalam sebuah drama. Melainkan hidup dalam ada yang nyata dengan hati ikhlas dan lapang dada.
Another year .... yang aku asakan hanya aku dapat membagi cinta dengan sepenuhnya kepada keluarga .... kepada sahabat ..... kepada kerabat ... dan kepada sesama umat .....
Another year .... ingin aku berucap do'a ... meminta apa yang bisa kupinta .... berharap apa yang bisa kuucap. Tapi aku tahu .... semua yang telah dan aka diberikanNya adalah yang terbaik .... walau tanpa doa dan tanpa harap, aku hanya akan berusaha melakukan yang terbaik ...... dalam segala ....
To be in this world .... another year has passed .... and don't know if there will be another year to come .....
Another year ..... Angka 1 telah terjumlah secara otomastis di yang namanya "usia"ku. Bukan bertambah tua yg membuatku lara, tapi berapa sisa usia yang membuatku bertanya. Akankah semua yang indah akan tetap ada? Dan akankah semua yang duka terbang sirna?
Another year .... Banyak sekali warna yang berpendar ujung usiaku yang lalu. Hingga mataku terasa nanar dan otakku seakan berputar. Sulit sekali untuk mencoba memahami apa yg telah terjadi. Yang kubisa hanya berusaha melakukan yang terbaik, berusaha merasakan yang terindah, berusaha memberikan yang teristimewa .....
Another year .... bertambah kerutan di wajah sudah pasti. Tapi itu bukan jadi satu kekhawatiran. Bertambah bijaksana, itu yang masih kunanti. Bukan lagi hidup dalam mimpi-mimpi laksana pemeran dalam sebuah drama. Melainkan hidup dalam ada yang nyata dengan hati ikhlas dan lapang dada.
Another year .... yang aku asakan hanya aku dapat membagi cinta dengan sepenuhnya kepada keluarga .... kepada sahabat ..... kepada kerabat ... dan kepada sesama umat .....
Another year .... ingin aku berucap do'a ... meminta apa yang bisa kupinta .... berharap apa yang bisa kuucap. Tapi aku tahu .... semua yang telah dan aka diberikanNya adalah yang terbaik .... walau tanpa doa dan tanpa harap, aku hanya akan berusaha melakukan yang terbaik ...... dalam segala ....
Happy B’day to me…. J
MANUSIA BIASA
Kadang aku ingin menjadi bunga .....
Cantik dan banyak disuka
Elok dan beraneka warna
Walaupun layu tatkala esok hari tiba
Kadang aku ingin menjadi angin .....
Sejuk kala terik menerpa
Dinanti layar kala perahu ingin berkelana
Walaupun bencana tatkala ia menari berputar menggila
Kadang aku ingin jadi batu .....
Keras tak mudah retak oleh waktu
Hanya diam terpaku sampai sepatu menendang diriku
Walaupun terlindas ban durjana tatkala telah bercampur aspal yang kelu
Kadang aku ingin jadi buku ......
Indah tatkala pensil warna bocah menari
Menakjubkan tatkala pujangga menorehkan puisi
Walaupun jadi usang tatkala waktu meniti
Namun aku tercipta sebagai manusia ......
Yang raganya terbelenggu penjara segala
Otak dan jiwa hanya bisa teriak KEPARAAATTTTT...!!!!!!!
Tatkala tak ada daya yang bisa merubah semua
Otakku penat sudah merancang cerita
Hatiku lelah sudah menyimpan rasa
Aku pikir mungkin asik jadi stalagtit saja
Menggantung diatas gua tak terganggu
Hanya bertambah kuat tanpa rasa yang tak pasti ....
Cantik dan banyak disuka
Elok dan beraneka warna
Walaupun layu tatkala esok hari tiba
Kadang aku ingin menjadi angin .....
Sejuk kala terik menerpa
Dinanti layar kala perahu ingin berkelana
Walaupun bencana tatkala ia menari berputar menggila
Kadang aku ingin jadi batu .....
Keras tak mudah retak oleh waktu
Hanya diam terpaku sampai sepatu menendang diriku
Walaupun terlindas ban durjana tatkala telah bercampur aspal yang kelu
Kadang aku ingin jadi buku ......
Indah tatkala pensil warna bocah menari
Menakjubkan tatkala pujangga menorehkan puisi
Walaupun jadi usang tatkala waktu meniti
Namun aku tercipta sebagai manusia ......
Yang raganya terbelenggu penjara segala
Otak dan jiwa hanya bisa teriak KEPARAAATTTTT...!!!!!!!
Tatkala tak ada daya yang bisa merubah semua
Otakku penat sudah merancang cerita
Hatiku lelah sudah menyimpan rasa
Aku pikir mungkin asik jadi stalagtit saja
Menggantung diatas gua tak terganggu
Hanya bertambah kuat tanpa rasa yang tak pasti ....
Minggu, 09 Juni 2013
MALAM INI
Malam
ini, kembali aku merasa terjaga lagi dari sebuah mimpi panjang yang indah dan
menyenangkan. Sebuah mimpi yang pada saat aku terjaga, alam sadarku berkata
bahwa semua hanyalah mimpi yang terbentuk atas sebab terangkainya setumpuk asa.
Asa di mana nanti hanya akan ada senyum dan tak lagi ada air mata. Asa di mana
nanti hanya akan ada tawa bahagia tanpa ada ratap merana.
Sekian bulan lalu, segenap keraguan menyelimuti jiwaku tentang akan kemana langkah mengarah. Akan kemana jiwa berpijak. Dahaga akan kedamaian jiwa dan ketentraman hati seakan laksana keringnya kerongkongan seorang musafir yang tersesat di padang pasir yang tandus dan merindukan seteguk air. Haus. Letih. Lelah. Dan tatkala asa akan keyakinan mulai tumbuh, kembali, kemungkinan akan ketiadaan membuatku bimbang.
Seolah terseok, jiwaku bimbang mencari kepastian arah. Kadang merasa yakin bahwa barat, tempat matahari terbitlah yang merupakan arah tujuan. Namun tatkala deraan badai pasir, angin kencang dan panas matahari yang menyengat membakar kulit datang, keyakinan jiwaku akan arah pun hilang. Lalu jiwaku berbalik arah menuju timur, tempat dimana matahari tenggelam dan merasa yakin jika ternyata arah tersebutlah yang tepat. Namun, kembali jiwaku urung melangkah tatkala kegelapan malam membungkus bumi dan dinginnya angin padang gurun pasir menerpa saraf saraf nadi. Lalu kembali lagi jiwaku berbalik arah menuju barat dengan berbekal keyakinan seperti sebelumnya. Tapi kembali menjadi tidak yakin dan berbalik lagi kearah timur. Lalu menjadi tidak yakin lagi dan kembali lagi menuju barat. Begitu seterusnya hingga akhirnya jiwaku lelah dan keyakinan pun memuai. Jiwaku lunglai. Terkapar seakan tanpa daya. Satu-satunya energi yang bernama asa pun nyaris lenyap. Nyaris pudar.
Saat asa hanya tinggal tersisa berupa serpihan kecil yang kapan saja bisa tandas tersapu angin, tiba-tiba sebuah pemandangan indah taman surgawi hadir hanya berjarak dua langkah dari hadapan jiwaku yang saat itu matanya telah tiga perempat tertutup. Nampak samar. Namun indah. Nyaman. Tentram. Dan tampak menjanjikan sejuta kedamaian dan kebahagiaan.
Untuk beberapa saat jiwaku berpikir, "ah ... itu semua hanyailusi .... hanya fatamorgana saja yang terjadi karena dehidrasi dan sengatan matahari yang hanya berjarak dua jengkal dari atas kepala. TIDAK. Semuanya tidak nyata".
Namun, sedikit serpihan asa yang masih tergenggam di tanga berkata "hampirilah .... masuklah ke taman tersebut. Tidakkah kau lihat betapa sungainya bening menyegarka, betapa rumputnya sangat hijau laksana hamparan permadani istana, betapa rerindangan pohonnya dipenuhi aneka buah yang menjanjikan keteduhan dan ketiadaan akan lapar, betapa bunga-bunganya beraneka warna indah dan menebar aroma wangi semerbak? .... Masuklah. Kau membutuhkannya untuk menghilangkan segala dahagamu, segala letihmu dan segala kepedihanmu".
Jiwaku bimbang sejenak dan meragu. Apakah taman surgawi itu benar-benar untukku?
Setelah berpikir selama sekian minggu, akhirnya jiwaku pun berpikir "ah ... memang benar. Taman itu sungguh indah. Sulit untuk tidak jatuh hati walau hanya dengan menatapnya saja. Lagipula mungkin ini semua adalah hadiah Tuhan atas semua kedukaan dan kepedihan".
Lalu, dengan sedikit serpihan asa yang masih erat di genggaman, jiwaku pun beranjak bangkut, lalu melangkah menghampiri taman tersebut. Tak sulit untuk mencapainya. Hanya dua langkah saja.
Dengan sedikit meragu, jiwaku menapaki rumput hijau yang membentang itu. Dan sungguh di luar dugaan ternyata rumput tersebut benar terasa di telapak kaki jiwaku yang telanjang.
Lalu dengan hati masih meragi ditambah rasa keterkejutan, jiwaku menghampiri sungai yang airnya mengalir bening dan terlihat menyegarkan. Kemudian menyentuh airnya. Ternyata seperti hal nya sang rumput, air sungai itu pun terasa nyata. Terasa sejuk. Dengan kedua telapak tangan , jiwaku mengambil air tersebut untuk kemudian diteguknya. Ternyata air nya memang nyata menyegarkan. Dan keraguan jiwakupun hilang.
Kemudian dengan antusias, jiwaku menghampiri reindangan pohon yang ditumbuhi buah beraneka, menyentuh daunnya, memetik buahnya, untuk kemudian memakannya.
Lalu seketika rasa dahaga yang laksana membakar kerongkongan, rasa letih dan lelah yang seakan merasuk hingga sumsum tulang serta rasa lapar yang seakan membuat lambung kehilangan rongganya pun lenyap. Semua hilang tak berbekas.
Jiwaku pun berlari menuju hamparan bunga warna warni yang harumnya semerbak itu. Laksana anak kecil yang kegirangan, jiwaku berlari-lari dan melompat-lompat, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas bunga -bunga tersebut. Berbaring terlentang dengan penuh rasa suka cita, sambil menatap langit yang tampak melengkung laksana atap sebuah planetarium. Indah. Biru. Cerah Awan hanya tampak sesaput tipis saja. Dan matahari yang tadinya hanya dua jengkal di atas kepala kini tampak kecil dan jauh. Cahayanya yang tadinya menyilaukan mata kini tampak indah. Laksana pendaran lampu di sebuah taman kota yang hanya indah menerangi tanpa menyakitkan padangan mata.
"Inikah yang dinamakan bahagia?" Pikir jiwaku.
Lupa sudah jiwaku akan kata "fatamorgana". Yang ada hanya rasa cinta, suka cita dan asa untuk bisa selamanya ada disana.
Untuk beberapa lama jiwaku berdiam. Menikmati segala keindahan yang ada di sekelilingnya. Hingga akhirnya tertidur.
Sekian bulan lamanya jiwaku terlelap. Bermimpi tentang hidup di taman surgawi hingga rentang usia sampai di ujungnya. Hingga akhirnya terbangun karena ia merasakan lelah, lapas dan dahaga kembali menghingapinya. Masih dengan hati yang bersuka cita, jiwakupun bergegas menuju sungai yang airnya dingin dan menyegarkan itu lalu meminumnya. Namun terjadi keanehan. Rasa segar dari air tersebut hilang. Air tersebut tak sama dengan saat pertama kali ia meminumnya. Berulang ia mencoba untuk meminumnya lagi dan lagi. Namun rasa segar air itu tak kunjung datang.
Dengan hati bertanya-tanya, jiwaku pun menuju rerindangan pohon yang ditumbuhi aneka buah itu, memetiknya, lalu memakannya. Kembali ia terkejut karena rasa buah yang tadinya terasa manis dan menyegarkan itu kini tidak lagi mampu menghilangkan rasa lapar yang mendera. Berkali-kali ia mencoba untuk memetiknya lalu memakannya. Namun bunyi keras perut keroncongan tak jua mau menghilang.
Akhirnya, dengan langkah yang tergayuti bimbang dan keraguan, jiwaku bergegas menuju hamparan bunga warna warni yang wanginya semerbak. Tetapi, lagi-lagi jiwaku kecewa karena bunga-bunga itupun kehilangan wangi nya. Semua keharumannya seolah menguap entah kemana.
Jiwa ku pun limbung, terjatuh dan terkapar dengan wajah yang bertatapan dengan sang langit dan matahari. Ah ... ternyata saat ini langit pun tak lagi biru melainkan kelabu. Matahari pun tampak garang dan menyilaukan tak bersahabat.
Sesak ... itu yang jiwa ku rasakan manakala menyadari bahwa ternyata sang taman surgawi ternyata hanya indah untuk sesaat. Dan manakala terjaga setelah terlelap karena terbuai keindahannya, semuanya seakan kian semu dan tak lagi nyata.
Jiwa ku gemetar hebat. Gemetar karena rasa takut yang sangat akan kemungkinan ketiadaan. Gemetar karena mengisak tangis manakala kemungkinan ketiadaan itu laksana sebuah pisau tajam yang dalam mengiris kalbu.
Bilamanakah seandainya nyata adalah tiada?
Apakah nyata menjadi tiada karena tak ada lagi asa?
Ataukah lmungkin fatamorgana adalah sedianya nyata?
Entah apa yang jiwa ku yakini sekarang.
Semua yang ada hanya seribu tanya dan tanya.
Seribu tanya yang membuat jiwa ku lelah.
Sekian bulan lalu, segenap keraguan menyelimuti jiwaku tentang akan kemana langkah mengarah. Akan kemana jiwa berpijak. Dahaga akan kedamaian jiwa dan ketentraman hati seakan laksana keringnya kerongkongan seorang musafir yang tersesat di padang pasir yang tandus dan merindukan seteguk air. Haus. Letih. Lelah. Dan tatkala asa akan keyakinan mulai tumbuh, kembali, kemungkinan akan ketiadaan membuatku bimbang.
Seolah terseok, jiwaku bimbang mencari kepastian arah. Kadang merasa yakin bahwa barat, tempat matahari terbitlah yang merupakan arah tujuan. Namun tatkala deraan badai pasir, angin kencang dan panas matahari yang menyengat membakar kulit datang, keyakinan jiwaku akan arah pun hilang. Lalu jiwaku berbalik arah menuju timur, tempat dimana matahari tenggelam dan merasa yakin jika ternyata arah tersebutlah yang tepat. Namun, kembali jiwaku urung melangkah tatkala kegelapan malam membungkus bumi dan dinginnya angin padang gurun pasir menerpa saraf saraf nadi. Lalu kembali lagi jiwaku berbalik arah menuju barat dengan berbekal keyakinan seperti sebelumnya. Tapi kembali menjadi tidak yakin dan berbalik lagi kearah timur. Lalu menjadi tidak yakin lagi dan kembali lagi menuju barat. Begitu seterusnya hingga akhirnya jiwaku lelah dan keyakinan pun memuai. Jiwaku lunglai. Terkapar seakan tanpa daya. Satu-satunya energi yang bernama asa pun nyaris lenyap. Nyaris pudar.
Saat asa hanya tinggal tersisa berupa serpihan kecil yang kapan saja bisa tandas tersapu angin, tiba-tiba sebuah pemandangan indah taman surgawi hadir hanya berjarak dua langkah dari hadapan jiwaku yang saat itu matanya telah tiga perempat tertutup. Nampak samar. Namun indah. Nyaman. Tentram. Dan tampak menjanjikan sejuta kedamaian dan kebahagiaan.
Untuk beberapa saat jiwaku berpikir, "ah ... itu semua hanyailusi .... hanya fatamorgana saja yang terjadi karena dehidrasi dan sengatan matahari yang hanya berjarak dua jengkal dari atas kepala. TIDAK. Semuanya tidak nyata".
Namun, sedikit serpihan asa yang masih tergenggam di tanga berkata "hampirilah .... masuklah ke taman tersebut. Tidakkah kau lihat betapa sungainya bening menyegarka, betapa rumputnya sangat hijau laksana hamparan permadani istana, betapa rerindangan pohonnya dipenuhi aneka buah yang menjanjikan keteduhan dan ketiadaan akan lapar, betapa bunga-bunganya beraneka warna indah dan menebar aroma wangi semerbak? .... Masuklah. Kau membutuhkannya untuk menghilangkan segala dahagamu, segala letihmu dan segala kepedihanmu".
Jiwaku bimbang sejenak dan meragu. Apakah taman surgawi itu benar-benar untukku?
Setelah berpikir selama sekian minggu, akhirnya jiwaku pun berpikir "ah ... memang benar. Taman itu sungguh indah. Sulit untuk tidak jatuh hati walau hanya dengan menatapnya saja. Lagipula mungkin ini semua adalah hadiah Tuhan atas semua kedukaan dan kepedihan".
Lalu, dengan sedikit serpihan asa yang masih erat di genggaman, jiwaku pun beranjak bangkut, lalu melangkah menghampiri taman tersebut. Tak sulit untuk mencapainya. Hanya dua langkah saja.
Dengan sedikit meragu, jiwaku menapaki rumput hijau yang membentang itu. Dan sungguh di luar dugaan ternyata rumput tersebut benar terasa di telapak kaki jiwaku yang telanjang.
Lalu dengan hati masih meragi ditambah rasa keterkejutan, jiwaku menghampiri sungai yang airnya mengalir bening dan terlihat menyegarkan. Kemudian menyentuh airnya. Ternyata seperti hal nya sang rumput, air sungai itu pun terasa nyata. Terasa sejuk. Dengan kedua telapak tangan , jiwaku mengambil air tersebut untuk kemudian diteguknya. Ternyata air nya memang nyata menyegarkan. Dan keraguan jiwakupun hilang.
Kemudian dengan antusias, jiwaku menghampiri reindangan pohon yang ditumbuhi buah beraneka, menyentuh daunnya, memetik buahnya, untuk kemudian memakannya.
Lalu seketika rasa dahaga yang laksana membakar kerongkongan, rasa letih dan lelah yang seakan merasuk hingga sumsum tulang serta rasa lapar yang seakan membuat lambung kehilangan rongganya pun lenyap. Semua hilang tak berbekas.
Jiwaku pun berlari menuju hamparan bunga warna warni yang harumnya semerbak itu. Laksana anak kecil yang kegirangan, jiwaku berlari-lari dan melompat-lompat, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas bunga -bunga tersebut. Berbaring terlentang dengan penuh rasa suka cita, sambil menatap langit yang tampak melengkung laksana atap sebuah planetarium. Indah. Biru. Cerah Awan hanya tampak sesaput tipis saja. Dan matahari yang tadinya hanya dua jengkal di atas kepala kini tampak kecil dan jauh. Cahayanya yang tadinya menyilaukan mata kini tampak indah. Laksana pendaran lampu di sebuah taman kota yang hanya indah menerangi tanpa menyakitkan padangan mata.
"Inikah yang dinamakan bahagia?" Pikir jiwaku.
Lupa sudah jiwaku akan kata "fatamorgana". Yang ada hanya rasa cinta, suka cita dan asa untuk bisa selamanya ada disana.
Untuk beberapa lama jiwaku berdiam. Menikmati segala keindahan yang ada di sekelilingnya. Hingga akhirnya tertidur.
Sekian bulan lamanya jiwaku terlelap. Bermimpi tentang hidup di taman surgawi hingga rentang usia sampai di ujungnya. Hingga akhirnya terbangun karena ia merasakan lelah, lapas dan dahaga kembali menghingapinya. Masih dengan hati yang bersuka cita, jiwakupun bergegas menuju sungai yang airnya dingin dan menyegarkan itu lalu meminumnya. Namun terjadi keanehan. Rasa segar dari air tersebut hilang. Air tersebut tak sama dengan saat pertama kali ia meminumnya. Berulang ia mencoba untuk meminumnya lagi dan lagi. Namun rasa segar air itu tak kunjung datang.
Dengan hati bertanya-tanya, jiwaku pun menuju rerindangan pohon yang ditumbuhi aneka buah itu, memetiknya, lalu memakannya. Kembali ia terkejut karena rasa buah yang tadinya terasa manis dan menyegarkan itu kini tidak lagi mampu menghilangkan rasa lapar yang mendera. Berkali-kali ia mencoba untuk memetiknya lalu memakannya. Namun bunyi keras perut keroncongan tak jua mau menghilang.
Akhirnya, dengan langkah yang tergayuti bimbang dan keraguan, jiwaku bergegas menuju hamparan bunga warna warni yang wanginya semerbak. Tetapi, lagi-lagi jiwaku kecewa karena bunga-bunga itupun kehilangan wangi nya. Semua keharumannya seolah menguap entah kemana.
Jiwa ku pun limbung, terjatuh dan terkapar dengan wajah yang bertatapan dengan sang langit dan matahari. Ah ... ternyata saat ini langit pun tak lagi biru melainkan kelabu. Matahari pun tampak garang dan menyilaukan tak bersahabat.
Sesak ... itu yang jiwa ku rasakan manakala menyadari bahwa ternyata sang taman surgawi ternyata hanya indah untuk sesaat. Dan manakala terjaga setelah terlelap karena terbuai keindahannya, semuanya seakan kian semu dan tak lagi nyata.
Jiwa ku gemetar hebat. Gemetar karena rasa takut yang sangat akan kemungkinan ketiadaan. Gemetar karena mengisak tangis manakala kemungkinan ketiadaan itu laksana sebuah pisau tajam yang dalam mengiris kalbu.
Bilamanakah seandainya nyata adalah tiada?
Apakah nyata menjadi tiada karena tak ada lagi asa?
Ataukah lmungkin fatamorgana adalah sedianya nyata?
Entah apa yang jiwa ku yakini sekarang.
Semua yang ada hanya seribu tanya dan tanya.
Seribu tanya yang membuat jiwa ku lelah.
Akankah jiwa ku bertahan?
Entahlah.
Yang tersisa hanyalah kepasrahan.
Kepasrahan akan keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi setiap umatnya.
Semoga.
Langganan:
Postingan (Atom)
